January 12th, 2012

Sebuah Wacana di Balik Nilai C

Selama aku kuliah di Komunikasi UNS ini, baru 2x aku dapat nilai C, dari pengajar yang sama dalam mata kuliah yang berbeda. Rasanya setelah aku dapat nilai C yang kedua ini, aku sempet mikir, “Salah apa aku ke dosennya kok hobi bener ngasi nilai C?” Terus aku pun ngajak beberapa temen buat minta transparansi nilai dan kejelasan alasan dari nilai C ini.

Hari Senin pagi itu, kami menghadap sang dosen dan meminta kejelasan kenapa kami bisa dapat nilai C. Beliau “menyodorkan” daftar nilai dan satu-persatu menyebutkan nilai kami yang ada di situ. Kami meminta sebuah tugas perbaikan nilai dan dosen itu menolak tegas dengan alasan keadilan. Sempet nggak terima, karena ketika nilai kami disebutkan, salah satu nilai temenku yang jauh di bawahku juga dapat nilai C. Sama denganku. Aku sempet berusaha menjadikan presensi sebagai senjata, tapi tetap gagal. Ya udah, akhirnya kami keluar dengan hasil hampa.

Mulai agak siang, ada beberapa temenku yang menghadap dosen itu lagi dan meminta transparansi nilai. Hasilnya, ada seorang teman yang ternyata nilainya juga di bawahku, tapi dia dapat nilai B. Itulah yang akhirnya bikin aku kembali menemui dosen itu dan meminta tugas ulang. Beliau tetap tidak mau memberikan tugas dan kalimat ini tercetus dari mulutku, “Bapak tadi bicara soal keadilan sama saya. Tapi buktinya Bapak nggak bisa adil ngasi nilai ke kami. Dengan Bapak ngasi dua orang teman saya tadi nilai seperti itu, berarti Bapak berlaku nggak adil sama saya, dan mungkin juga banyak teman saya yang lain.” Akhirnya sang dosen memberikan tugas tambahan. Entah dengan dasar kesadaran keadilan yang tadi digembor-gemborkannya, kasihan, atau muak dengan saya yang merengek-rengek terus-terusan.

Sejak saat itu, aku jadi sadar. Dosen cuma bisa lihat semua dari HASIL AKHIR. Mereka nggak bisa lihat proses di balik itu semua. Ditambah lagi dengan karakter dosen yang sangat idealis semacam itu. Mereka nggak bisa menilai bagaimana aku berusaha menepati kontrak kerja dengan datang tepat waktu, selalu mencatat apa yang diberikan di kelas, berusaha membuat makalah berdasarkan teori dari buku dan bukan copas dari internet, bagaimana aku berusaha mencicil mengerjakan tugas yang beliau berikan sejak waktu yang lama, dan bukan dengan sistem kebut semalam demi hasil yang maksimal, serta sekeras apa aku berusaha mendapatkan silabus yang diberikan dosen itu. Wajar, beliau bukan Tuhan yang bisa melihat semua proses itu.

Hal ini membuatku berpikir, semua ini membuatku jadi berpikiran picik. Ini sama saja aku hidup untuk nilai. Sama saja aku menyembah nilai, dan bukan ilmu. Memang, hasil akhir dari sebuah proses bisa diukur dengan nilai, oleh orang awam macam dosenku itu. Tapi nilai nggak bisa mengukur setiap proses kita mendapatkan ilmu itu. Padahal pasti di setiap proses itu, kita menemukan banyak pembelajaran yang lebih berarti, bukan sekedar omong kosong di dalam kelas. Berusaha maksimal, kerja keras, disiplin, peka, peduli, setia kawan, teamwork, dan masih banyak lagi yang aku dapatkan dari proses itu. Dan beliau nggak bisa menilai itu semua.

Terima kasih, Pak. Karena Anda, saya jadi sadar kalau nilai C saya bukanlah sebuah kutukan, tapi sebagai pengingat kalau saya masih punya pikiran, hati, dan jiwa untuk diperkerjakan, serta pengingat saya pada pesan almarhum bapak saya: “Bapak pengen kamu cari ilmu setinggi-tingginya, bukan cari nilai sebanyak-banyaknya tapi kamu nggak dapet apa-apa kecuali nilai.”